Kisah Pondok Pesantren At-Taufiqiyah Sumenep, Berdiri di Lingkungan Masyarakat yang Keras
Pondok Pesantren At-Taufiqiyah berdiri sejak 1942. Lembaga pendidikan yang berlokasi di Desa Aengbaja Raja, Kecamatan Bluto, ini didirikan oleh KH Hasyim Ali. Sebelum berdiri pesantren, masyarakat di lingkungan tersebut terkenal keras.
Sejak berusia tujuh tahun, KH Hasyim Ali mondok di salah satu pesantren di Asta Barat, Desa Kebonangung, Sumenep.
Saat usia remaja, pindah ke Pondok Pesantren Lubangsa Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep. Setelah bertahun-tahun menimba ilmu, dia pulang ke kediamannya di Desa Aengbaja Raja, Kecamatan Bluto.
Setelah berkelana menimba ilmu, KH Hasyim Ali merintis Ponpes At-Taufiqiyah. Dia mengajar mengaji anak-anak kerabatnya serta warga sekitar. Saat itu, di lingkungan tersebut rawan terjadi tindakan kriminal, perjudian, dan lainnya.
Meski demikian, KH Hasyim Ali bekerja keras mengembangkan apa yang dirintisnya. Dia terus mengajak dan menarik simpati masyarakat untuk belajar ilmu agama. Di antaranya, membuat gebrakan perkumpulan jamiatul surah setiap malam Selasa.
Pihaknya berjalan kaki keliling kampung mengajak warga belajar ilmu agama. Upaya tersebut berhasil, banyak yang belajar agama dan mengaji pada KH Hasyim Ali.
Animo masyarakat untuk belajar ilmu agama meningkat. Sekitar 1950-an, KH Hasyim Ali membangun madrasah wajib belajar (MWB) yang kini menjadi MI At-Taufiqiyah.
Kemudian, dibangun muallimin yang kini menjadi MTs At-Taufiqiyah. Pada 1980–1982, baru dibangun MA dan sekarang sudah dilengkapi SMK At-Taufiqiyah.
Pada 1981, KH Hasyim Ali wafat. Kepemimpinan Ponpes At-Taufiqiyah diasuh putranya, yakni KH Imam Hasyim sampai sekarang. Jumlah santri saat ini mencapai 1.450 orang dari berbagai jenjang pendidikan.
Pengasuh Ponpes At-Taufiqiyah KH Imam Hasyim mengatakan, setelah mondok di Ponpes Nurul Jadid Paiton, Probolinggo, dirinya dipercaya mengasuh Ponpes At-Taufiqiyah.
Pesantren ini sengaja diberi nama At-Taufiqiyah oleh KH Hasyim Ali. Nama itu sudah melalui perenungan yang panjang.
