Zulhas Ungkap Data Penerima MBG di Pesantren Masih Minim

MENTERI Koordinator Pangan Zulkifli Hasan mengungkapkan perbedaan data jumlah penerima manfaat program makan bergizi gratis (MBG) antara siswa sekolah umum dan madrasah. Pernyataan itu disampaikannya usai mengadakan rapat terbatas terkait dengan MBG pada Kamis, 29 Januari 2026.

Rapat yang digelar di kantor Kementerian Koordinator Pangan itu dipimpin Zulkifli Hasan selaku tuan rumah dan dihadiri jajaran pimpinan Kabinet Merah Putih seperti Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana, Menteri Agama Nasaruddin Umar, dan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifatul Choiri Fauzi. 

Zulhas–begitu Zulkifli disapa–menyatakan jumlah penerima manfaat di sekolah yang dinaungi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah sudah mencapai 95 persen. “Ada keluhan dari Pak Menteri Agama, kok yang di pondok ini kecil (jumlah penerima manfaat),” kata dia dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis. Rapat tersebut mengungkapkan jumlah penyaluran MBG di institusi pendidikan di Kementerian Agama mencapai 20 persen. 

Adapun sejumlah institusi pendidikan yang dinaungi Kementerian Agama terdiri dari madrasah aliyah atau setara SMA, madrasah tsanawiyah atau setara dengan SMP, dan pondok pesantren negeri.

Menanggapi perbedaan data antara kedua kementerian itu, Zulhas meminta eselon 1 dari Kementerian Agama, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Kesehatan, dan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional melakukan pencocokan data di Kementerian Koordinator Pangan. “Data itu kita harapkan data-data yang benar, terbaik,” kata politikus Partai Amanat Nasional itu. 

Hingga kini Badan Gizi Nasional mencatat jumlah penerima manfaat telah mencapai 60 juta orang. Adapun target penerima manfaat sepanjang 2026 ditetapkan sebanyak 82,9 juta orang. 

Adapun jumlah satuan pemenuhan pelayanan gizi atau SPPG telah mencapai 22.091 unit dengan jumlah pegawai mencapai 924.424 orang.

Diduga Keracunan MBG, 8 Santri Pesantren di Pinrang Dilarikan ke Puskesmas

Diduga keracunan Makanan Bergizi Gratis (MBG), delapan siswa-siswi Pesantren Al-Mustafa Kanipang, Desa Sabbang Paru, Kecamatan Lembang, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan (Sulsel), dilarikan ke Puskesmas untuk mendapatkan perawatan.

Informasi yang dihimpun, delapan santri tersebut masing-masing berinisial AYS(12), YSN (13), NA (12), AK (13), AKH  (12), ADS (13), MTMH (13), dan AYS (13). Mereka dilarikan ke Puskesmas Tuppu, Kecamatan Lembang pada hari Kamis, 29 Januari 2026, sekitar pukul 10.00 WITA.

Saat itu, mereka mengeluh pusing dan mual setelah mengonsumsi MBG yang dibagikan di Pesantren pada hari Rabu, 28 Januari 2026.

Makanan MBG yang dikonsumsi diduga tidak layak, khususnya lauk ayam kuah kuning yang disebut belum matang dan sudah berbau basi. Menu MBG tersebut terdiri dari nasi putih, ayam kuah kuning, tempe goreng kecap, pisang, timun, dan tomat.

Kepala Puskesmas (Kapus) Tuppu dr.Syamsul Hanar, yang dikonfirmasi membenarkan hal itu.

“Iya, delapan siswa-siswi Pesantren Al-Mustafa Kanipang dirawat karena diduga keracunan makanan usai mengonsumsi MBG. Namun mereka sudah dipulangkan ke rumah masing masing. Sesuai arahan Pimpinan. Untuk informasi mengenai MBG kemarin semuanya satu pintu di Dinkes Pinrang, supaya tidak ada informasi yang bias, silahkan koordinasi dengan Dinkes” ungkapnya.

Terpisah, Pimpinan Pondok Pesantren Al-Mustafa Kanipang, H. Mustapa Tangali,
yang dikonfirmasi menyampaikan bahwa santri yang diduga mengalami keracunan makanan, sempat menjalani perawatan selama 24 jam di Puskesmas Tuppu. Namun, ia memastikan kondisi para santri kini telah membaik.

“Alhamdulillah, anak-anak sudah masuk sekolah kembali setelah dirawat. Kemarin, tepatnya hari Jumat, mereka sudah kembali ke asrama semua,” ujar Ustadz Mustapa saat dihubungi melalui sambungan telepon, Sabtu (31/1/2026).

Lebih lanjut Mustafa mengatakan bahwa berdasarkan hasil koordinasi dengan tim kesehatan dan para pembina di pondok, ditemukan bahwa kendala bukan pada kualitas bahan baku, melainkan pada sirkulasi udara di dapur tempat pengolahan MBG.

“Tim kesehatan, menemukan bahwa dapur tidak memiliki siklus udara yang memadai, Kondisi ruangan yang pengap menyebabkan bahan masakan atau makanan yang sudah jadi menjadi cepat basi,”

India menutup perguruan tinggi kedokteran Kashmir – setelah sebagian besar mahasiswa Muslim diterima.

India telah menutup sebuah perguruan tinggi kedokteran di Kashmir yang dikelola India sebagai bentuk penyerahan diri terhadap protes kelompok Hindu sayap kanan atas penerimaan sejumlah besar mahasiswa Muslim ke dalam program studi bergengsi tersebut.

Komisi Medis Nasional (NMC), sebuah otoritas pengatur federal untuk pendidikan dan praktik kedokteran, pada tanggal 6 Januari mencabut pengakuan terhadap Institut Medis Shri Mata Vaishno Devi (SMVDMI), yang terletak di Reasi, sebuah distrik pegunungan yang menghadap ke pegunungan Pir Panjal di Himalaya, yang memisahkan dataran Jammu dari lembah Kashmir.

Dari 50 siswa yang bergabung dalam program sarjana kedokteran (MBBS) lima tahun pada bulan November, 42 di antaranya beragama Islam, sebagian besar penduduk Kashmir, sementara tujuh beragama Hindu dan satu beragama Sikh. Ini adalah angkatan MBBS pertama yang diluncurkan oleh perguruan tinggi swasta tersebut, yang didirikan oleh sebuah badan amal keagamaan Hindu dan sebagian didanai oleh pemerintah.

Penerimaan mahasiswa ke perguruan tinggi kedokteran di seluruh India, baik negeri maupun swasta, mengikuti ujian masuk terpusat yang disebut Ujian Masuk Nasional (NEET), yang diselenggarakan oleh Badan Pengujian Nasional (NTA) di bawah Kementerian Pendidikan federal.

Lebih dari dua juta siswa India mengikuti ujian NEET setiap tahun, berharap mendapatkan salah satu dari sekitar 120.000 kursi MBBS. Para calon mahasiswa biasanya lebih memilih perguruan tinggi negeri, di mana biaya lebih rendah tetapi nilai ambang batas penerimaan tinggi. Mereka yang gagal memenuhi nilai ambang batas tetapi memenuhi ambang batas minimum NTA bergabung dengan perguruan tinggi swasta.

Seperti Saniya Jan*, seorang warga berusia 18 tahun dari distrik Baramulla, Kashmir, yang mengenang perasaan gembira yang luar biasa ketika ia lulus ujian NEET, sehingga ia berhak untuk belajar kedokteran. “Itu adalah mimpi yang menjadi kenyataan – menjadi seorang dokter,” kata Saniya kepada Al Jazeera.

Ketika ia mengikuti sesi konseling yang menentukan perguruan tinggi mana yang akan dipilih oleh peserta ujian NEET, ia memilih SMVDMI karena letaknya sekitar 316 km (196 mil) dari rumahnya – relatif dekat bagi siswa di Kashmir, yang seringkali harus menempuh perjalanan jauh lebih jauh untuk pergi ke perguruan tinggi.

Orang tua Saniya yang gembira mengantarnya ke Reasi untuk mengantarkannya ke kampus saat tahun ajaran dimulai pada bulan November. “Putri saya selalu menjadi siswa berprestasi sejak kecil. Saya punya tiga putri, dan dia yang paling pintar. Dia benar-benar bekerja keras untuk mendapatkan kursi di fakultas kedokteran,” kata ayah Saniya, Gazanfar Ahmad*, kepada Al Jazeera.

5 Fakta Terkini Santriwati yang Dilecehkan Pimpinan Ponpes di Deli Serdang

Pemilik sekaligus pimpinan pondok pesantren (ponpes) di Deli Serdang, inisial MAM diamankan polisi karena diduga melecehkan santriwati. MAM pun nyaris diamuk oleh keluarga korban karena ulahnya.

Keluarga korban juga sempat menggeruduk ponpes pada Minggu (4/1) malam. Beruntung situasi berhasil terkendali setelah ditenangkan oleh kepala dusun setempat.

Kanit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Polrestabes Medan Iptu Dearma Agustina membenarkan peristiwa tersebut.

“(Benar) Memang ada (peristiwa diduga pelecehan di pesantren),” ucapnya kepada detikSumut ketika dikonfirmasi, Senin (5/1/2026).

Dirangkum detikSumut berikut ini sejumlah fakta terkini pimpinan ponpes yang cabuli santriwatinya.

Fakta Pimpinan Ponpes di Deli Serdang Cabuli Santriwati

1. Pimpinan Ponpes Diamuk Keluarga Korban

Menurut keterangan warga sekitar, Lisha, pemilik pondok pesantren diduga telah melakukan tindakan asusila berupa pelecehan seksual terhadap santriwati tersebut.

“Iya, pemilik pondok pesantren mencium bahkan memeluk santrinya,” ungkap salah seorang Lisha saat diwawancarai detikSumut, Senin (5/1/2026).

Warga yang geram atas perbuatan tersebut nyaris melakukan aksi main hakim sendiri. Namun, situasi berhasil diredam oleh kepala dusun setempat.

“Emosi keluarga korban hampir berujung pemukulan, untung ada Pak Kadus yang mencoba melerai,” katanya.

2. Kadus Sebut Pimpinan Ponpes 2 Kali Berhubugan Badan dengan Korban

Kepala Dusun setempat, Mahmud Sobri mengatakan, awalnya ponpes tersebut digeruduk keluarga korban. Hingga akhirnya dilakukan mediasi antara keluarga korban, pemilik ponpes dan perangkat desa.

Orang tua korban menyebut, korban mengaku sudah dua kali melakukan hubungan badan dengan terduga pelaku.

“Dari informasi orang tua korban, pelaku mengakui sudah dua kali melakukan hubungan badan,” ungkapnya.

Kemudian dalam mediasi tersebut, lanjut Sobri, terduga pelaku MAM juga mengakui perbuatannya dengan dalih dilakukan atas dasar suka sama suka dengan santriwatinya yang masih di bawah umur tersebut.

“Dia mengakui telah menyetubuhi santriwatinya atas dasar mau sama mau,” tambah Sobri.

3. Korban Lebih dari 1 Orang

Menurut Sobri, dalam mediasi tersebut, sejumlah keluarga santri lain juga datang dan mengaku anak mereka juga pernah menjadi korban pelecehan oleh MAM. Mereka meminta pertanggungjawaban atas perbuatan yang diduga dilakukan pelaku.

“Kemudian ada keluarga dari santriwati lain juga yang jadi korban, tetapi tidak disebutkan berapa jumlahnya,” katanya.

Karena mediasi tidak membuahkan hasil, pihak keluarga korban bersikukuh untuk membawa kasus tersebut ke ranah hukum.

“Mereka lebih memilih melaporkan ke kepolisian. Saya sarankan keluarga korban mendatangi polsek untuk membuat laporan agar segera ditindaklanjuti,” ucapnya.

4. Kasus Terungkap saat Korban Lapor ke Ortu

Sobri menyebut kasus terungkap berawal dari salah seorang teman korban melaporkan peristiwa ini ke orang tua korban.

“Saya dengar, bukan korban langsung, tetapi temannya. Temannya yang mengadukan perihal itu kepada orang tua korban ,” ungkapnya.

Mahmud menjelaskan, setelah menerima aduan tersebut, keluarga korban merasa kecewa dan marah. Mereka kemudian mendatangi pondok pesantren karena anaknya yang dititipkan untuk belajar justru menjadi korban pencabulan hingga berkali-kali.

“Kalau keluarga korban, yang saya lihat sangat marah dan kesal. Artinya, kekecewaan mereka sangat besar terhadap pondok pesantren, karena anaknya dititipkan untuk belajar, tetapi justru mengalami kejadian seperti itu,” jelasnya.

5. Keluarga Korban dan Pimpinan Ponpes Sudah Dimediasi

Mahmud menyebut, pada Minggu (5/1) sore sempat dilakukan mediasi yang dihadiri keluarga korban, kepala dusun, dan terduga pelaku. Dalam mediasi itu, MAM mengakui perbuatannya dan mengklaim dilakukan atas dasar suka sama suka, meski korban masih di bawah umur.

“Pelaku menyampaikan kejadiannya senang sama senang,” ucapnya.

Dari hasil mediasi tersebut, terungkap pula adanya santriwati lain yang diduga menjadi korban pelecehan oleh pimpinan pondok pesantren itu.

“Beberapa di antaranya dicium, dipeluk, dan tindakan lain yang mengarah pada perbuatan tidak senonoh,” katanya.

Mendengar pengakuan itu, emosi keluarga korban dan warga sekitar memuncak. Situasi sempat memanas dan nyaris terjadi aksi main hakim sendiri, namun berhasil diredam oleh kepala dusun.

“Sebelum Magrib kami bermusyawarah. Keluarga korban menginginkan kasus ini dibawa ke ranah hukum,” jelas Mahmud.

Saat Mahmud meninggalkan lokasi untuk salat Magrib, warga mulai berdatangan. Ketika ia kembali, situasi sudah ricuh dan massa semakin ramai.

“Begitu saya balik, kondisinya sudah ribut,” ujarnya.

Mahmud mengatakan, sambil menunggu petugas kepolisian, warga meluapkan kemarahan dengan merusak sejumlah fasilitas pondok pesantren, termasuk pagar pembatas dari seng.

Groundbreaking Ponpes Al Khoziny, Telan APBN Rp 125,3 Miliar

MENTERI Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar atau Cak Imin melakukan groundbreaking pembangunan kembali Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny di Desa Siwalanpanji, Kecamatan Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur pada Kamis 11 Desember 2025. Proyek itu menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) senilai Rp125,3 miliar.

Pantauan Tempo, agenda groundbreaking tersebut berlangsung di lokasi terbaru Ponpes Al Khoziny seluas 4.100 meter persegi. Pembangunan pun mulai berlangsun dan ditargetkan selesai dalam 210 hari atau sekitar Juli 2026.

Dalam sambutannya, Cak Imin mengatakan bahwa peletakan batu pertama ini merupakan momentum gotong royong dalam memajukan sistem pendidikan pesantren di Indonesia.

“Hari ini menjadi momentum pemerintah, pengasuh, lembaga pendidikan untuk bahu-membahu agar pesantren semakin nyaman dan aman bagi para santri,” kata Cak Imin.

Cak Imin menyebutkan bahwa Presiden Prabowo Subianto memberikan perhatian khusus terhadap Al-Khoziny pasca bangunannya ambruk dan menewaskan 63 santri pada akhir September 2025. Karenanya, presiden ingin memastikan pembangunan pesantren berjalan maksimal.

“Beliau (Presiden) punya komitmen penuh terhadap masa depan pesantren karena sejarah panjang kontribusi pesantren bagi bangsa sejak sebelum kemerdekaan,” ujar Cak Imin.

Peningkatan sarana dan prasarana

Cak Imin juga menyinggung pentingnya peningkatan sarana prasarana pesantren. Termasuk fasilitas dasar bagi santri, seperti kamar mandi.

“Yang benar itu satu kamar mandi maksimal untuk jumlah santri tertentu. Kalau belum mampu, disabari dulu, tetapi kita harus terus memperbaiki,” tambahnya.

Sementara itu, Pengasuh Ponpes Al-Khoziny, KH Abdus Salam Mujib turut hadir menyampaikan rasa terima kasihnya atas perhatian pemerintah terhadap pesantren yang diasuhnya. Terlebih, pemerintah saat ini juga fokus untuk menangani bencana di Sumatera.

“Tentunya musibah yang terjadi di Al-Khoziny tidak ada apa-apanya dibandingkan itu (bencana Sumatera),” tutur Salam.

Sebagai informasi, bangunan asrama putra Pondok Pesantren Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur, Indonesia ambruk pada Senin, 29 September 2025 pukul 15.00 WIB. Saat itu, para santri sedang melakukan salat asar berjamaah di lantai satu, sementara bangunan lantai tiga dan empat sedang dalam tahap pembangunan. 

Sebanyak 63 santri tewas pada kejadian itu. Namun, belum ada tersangka yang ditetapkan polisi hingga saat ini.

Polisi Usut Pelecehan Santri di Bangkalan

PELECEHAN seksual kembali terjadi di salah satu pondok pesantren di Kecamatan Galis, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur. Pelaku berinisial UF diketahui merupakan salah satu pengajar di tempat tersebut.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Jawa Timur Komisaris Besar Jules Abraham Abast menyebutkan, pelaku kini telah ditetapkan sebagai tersangka. “Dilakukan penangkapan dan penahanan (pelaku) oleh penyidik,” kata Jules pada Sabtu, 10 Januari 2026.

Menurut Jules, UF terbukti melakukan aksi pencabulan terhadap santriwati. Korban merupakan murid pelaku di pondok pesantren tempatnya mengajar. 

Pelaku kini dijerat dengan Pasal 81 Ayat (2) dan (3) juncto Pasal 76D dan/atau Pasal 82 Ayat (2) juncto Pasal 76E Undang-Undang Perlindungan Anak. “Penyidik telah menyerahkan berkas perkara tahap I atas nama tersangka UF ke kejaksaan,” ucap Jules dalam keterangan tertulisnya. 

Kasus ini diketahui berawal dari laporan keluarga salah satu korban pada 1 Desember 2025 lalu. Kepolisian lalu memulai rangkaian penyelidikan dan memeriksa saksi-saksi sebelum akhirnya menangkap UF pada 10 Desember 2025.

Ketika itu Jules mengungkapkan, UF diduga melakukan pelecehan terhadap sejumlah murid di tempatnya mengajar. “Terduga pelaku berinisial U diduga melakukan tindakan asusila terhadap sejumlah santri,” kata Jules pada Rabu, 10 Desember 2025.

Jules menegaskan, institusinya berkomitmen untuk mengusut tuntas kasus pelecehan di pondok pesantren tersebut. Kepolisian juga akan memastikan pendampingan psikologis bagi para korban untuk mengurangi trauma selama proses pemeriksaan

Peran Santri Menjaga Eksistensi Pesantren

Santri memiliki peran penting dalam menjaga eksistensi pesantren, yang merupakan lembaga pendidikan Islam tradisional yang sangat berakar di Indonesia. Berikut adalah beberapa peran penting santri dalam menjaga keberlanjutan dan eksistensi pesantren

Pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan non-formal yang berkembang pesat di Indonesia. Pesantren lazimnya didefinisikan sebagai tempat mengaji sekaligus menjadi tempat tinggal (asrama) bagi para santri yang sedang menimba ilmu kepada para kiai. Pada umumnya, ilmu yang diajarkan di dalamnya adalah seputar ilmu keagamaan, seperti ilmu tafsir, hadits, fiqih, falak, akhlak, dan lain-lain.  

Pesantren yang kurikulum pelajarannya seperti ini biasanya disebut dengan istilah pesantren salaf (klasik). Kemudian, seiring berjalannya waktu, berkembanglah pesantren-pesantren yang kurikulum pelajarannya tidak hanya meliputi ilmu keagamaan, melainkan juga meliputi ilmu pengetahuan umum. Pesantren yang kurikulum pelajarannya memadukan antara ilmu keagamaan dan ilmu pengetahuan umum disebut dengan istilah pesantren khalaf (modern).Sejak dulu, pesantren telah dikenal sebagai lembaga pendidikan yang istimewa dan berbeda dari lembaga-lembaga pendidikan lainnya. Di antara keistimewaan tersebut adalah pesantren hadir sebagai lembaga pendidikan yang selalu menjunjung tinggi ilmu keagamaan, dan menerapkan pendidikan karakter kepada seluruh santri tanpa terkecuali. Misalnya, pembiasaan sikap disiplin, berperilaku sopan dan santun terhadap sesama, dan konsisten dalam menjalankan ibadah.

Namun demikian, saat ini dunia pesantren tengah dihadapkan dengan sebuah tantangan yang luar biasa. Yaitu, berkenaan dengan eksistensi pesantren di tengah derasnya arus globalisasi yang semakin hari semakin menjadi-jadi. 

Eksistensi pesantren harus senantiasa dipertahankan, dan bahkan harus ditingkatkan. Hal inilah yang mau atau tidak mau, suka atau tidak suka, harus dihadapi oleh seluruh pesantren di Indonesia. Mengapa demikian? 

Hal ini didasari dengan munculnya teknologi informasi dan komunikasi yang semakin hari semakin berkembang dengan pesat. Jika pesantren tidak menghiraukan, atau bahkan bersikap acuh tak acuh terhadap realita ini, maka besar kemungkinan dalam beberapa tahun kedepan, eksistensi pesantren akan kalah dengan lembaga pendidikan lain yang memiliki daya tarik lebih tinggi darinya. 

Lebih khawatirnya, pesantren meredup dari status primadona lembaga pendidikan bagi masyarakat luas. Oleh sebab itu, pesantren harus adaptif, dan senantiasa mengembangkan diri, serta melakukan inovasi pendidikan guna menyesuaikan diri dengan kemajuan teknologi pada era globalisasi kini.

Melakukan inovasi pendidikan bukan berarti pesantren harus menghilangkan kultur pendidikan lama yang telah diterapkan sebelumnya (seperti mengaji dengan sistem sorogan, bandongan, halaqah, dan sebagainya). 

Akan tetapi, yang dimaksud dari melakukan inovasi ini adalah pesantren tetap mempertahankan kultur pendidikan lama yang dinilai baik dan penting untuk tetap dilaksanakan dan melakukan pembaharuan kultur pendidikan yang lebih baik lagi untuk dapat diterapkan dalam kegiatan pendidikan dalam pesantren. Lantas, bagaimana upaya kita sebagai santri dalam ‘membantu’ pesantren agar senantiasa terjaga eksistensinya? 

Kita sebagai generasi santri muda, apalagi kita yang menyandang gelar alumni pesantren, harus senantiasa berperan aktif dan mendukung secara konsisten upaya-upaya pesantren dalam menjaga eksistensinya sebagai salah satu lembaga pendidikan negeri ini ditengah derasnya arus globalisasi. 

Salah satu bentuk upaya  yang dapat kita berikan untuk mendukung pesantren dalam menjaga eksistensinya adalah dengan cara kita sebagai alumni pesantren senantiasa menjaga dan menjunjung tinggi nilai-nilai kesantrian yang dahulu telah diajarkan oleh para kiai saat kita masih di pesantren di mana pun kita berada. 

Sebagai contoh, dalam ranah spiritual, selama mondok di pesantren kita diajarkan untuk senantiasa istiqomah menjaga shalat fardhu 5 waktu secara berjamaah. Maka, ketika kita sudah menjadi alumni, wadhifah baik demikian ini harus tetap kita lakukan secara konsisten. Bahkan, lebih baik lagi bila kita turut ambil peran menjadi pionir penggerak shalat fardhu berjamaah di lingkungan sekitar kita, baik dalam lingkup keluarga maupun masyarakat. 

Dalam contoh lain, dalam ranah sosial, selama mondok di pesantren kita diajarkan untuk senantiasa berperilaku sopan dan santun ketika berinteraksi dengan sesama. Kita diajarkan bagaimana cara menghormati kepada yang lebih tua dan bagaimana cara menyayangi kepada yang lebih muda. Nah, ajaran baik demikian ini selazimnya juga kita amalkan selalu dalam kehidupan kita pasca boyong dari pesantren.

Dengan menjaga dan menjunjung tinggi nilai-nilai kesantrian dalam wujud tindakan yang dihiasi akhlak mulia tersebut, secara tidak langsung kita menunjukkan kepada masyarakat luas bahwasanya alumni pesantren itu memiliki keistimewaan tersendiri. Satu keistimewaan yang langka dan sulit untuk ditemukan pada masa sekarang ini. 

Selain itu, citra pesantren sebagai lembaga pendidikan akan terkesan baik dan dinilai luar biasa dalam perspektif masyarakat, sehingga mereka akan terkesima dan tertarik untuk memilih pesantren sebagai lembaga pendidikan untuk anak-anak mereka. 

Dengan demikian, peran santri dan eksistensi pesantren sebagai lembaga pendidikan di negeri ini akan senantiasa terjaga dan bahkan semakin meningkat pesat. Sehingga, harapan dan misi pesantren untuk memajukan pendidikan bangsa dengan cara mencetak generasi muda penerus bangsa yang berjiwa besar, disiplin, dan berilmu pengetahuan luas, serta berakhlak mulia, akan lebih mudah terwujud. Wallahu a’lam.

Wawancara Komisioner Komnas Perempuan tentang Pendampingan Penyintas Kekerasan Seksual di Pesantren

Dalam rangka menyambut Hari Santri Nasional (HSN), Kyai Imam Nakhei, komisioner Komnas Perempuan, memberikan keterangan dalam wawancara eksklusif dengan tema “Pendampingan Penyintas Kekerasan Seksual di Pesantren.” Dalam wawancara tersebut, Kyai Imam Nakhei menyoroti pentingnya menciptakan pesantren yang memiliki budaya non-kekerasan, bullying, dan intoleransi.

Salah satu poin utama yang diangkat adalah pentingnya integrasi nilai-nilai anti kekerasan ke dalam kurikulum serta kampanye sosial di pesantren sebagai upaya pencegahan dan penanganan kekerasan seksual.

Kyai Imam Nakhei juga menekankan perlunya pendampingan yang berkesinambungan bagi penyintas kekerasan seksual, serta pentingnya kolaborasi antara pesantren, lembaga perlindungan anak, dan pihak terkait untuk menyediakan mekanisme rehabilitasi dan pemulihan korban.

Apa saja hambatan penanganan Kekerasan Seksual di Pesantren?

Salah satu kendala dalam menangani kasus kekerasan seksual di pesantren adalah pandangan bahwa kekerasan seksual dianggap sebagai hal yang tabu dan memalukan. Banyak yang khawatir jika kasus ini dibuka ke publik, akan merusak reputasi lembaga pendidikan, baik di pesantren maupun di luar pesantren.

Stigma ini, yang menganggap kekerasan seksual sebagai aib yang harus disembunyikan, menjadi akar permasalahan kekerasan di lingkungan pendidikan, termasuk pesantren.

Kendala kedua adalah anggapan bahwa kekerasan seksual tidak perlu ditangani dengan serius, karena dianggap sebagai hal yang wajar. Normalisasi kekerasan, sekecil apapun, justru memperkuat dan mempertahankan keberadaan kekerasan di lingkungan pendidikan. Hal ini menyebabkan kasus kekerasan seksual terus terjadi dan berkembang menjadi masalah yang lebih besar, seperti yang terlihat dari masih maraknya berita tentang kekerasan seksual di pesantren.

Selain itu, hambatan lainnya adalah belum adanya mekanisme pencegahan dan penanganan kekerasan seksual di pesantren. Hingga saat ini, belum ada peraturan yang khusus mengatur penanganan kasus kekerasan seksual di lingkungan pesantren. Sosialisasi mengenai hal ini juga belum maksimal di kalangan pesantren dan lembaga pendidikan lainnya.

Bagaiamana Peran Komnas HAM dan Komnas Perempuan?

Dalam upaya mencegah kekerasan seksual di pesantren dan lembaga pendidikan lainnya, Komnas HAM dan Komnas Perempuan sebenarnya turut berperan dalam penyusunan regulasi, termasuk Peraturan Menteri Agama (PMA) No. 73 Tahun 2022 tentang pencegahan kekerasan seksual di satuan pendidikan di bawah Kementerian Agama. Mereka juga terlibat di Kemendikbudristek dalam merumuskan kebijakan pencegahan dan penanganan kekerasan seksual. Namun, tantangan utamanya adalah anggaran yang besar serta komitmen yang kuat untuk menjalankannya.

Meski realisasi Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ini cukup signifikan, terutama di perguruan tinggi—baik perguruan tinggi agama maupun umum—hambatan tetap ada. Beberapa perguruan tinggi dan Kemendagri sudah memiliki SOP yang berjalan, namun penerapannya di pesantren masih belum detail dan belum signifikan. Sosialisasi regulasi di lingkungan pesantren juga belum maksimal. Sosialisasi ini penting untuk mendorong agar pesantren memiliki mekanisme pencegahan, penanganan, dan evaluasi yang berkesinambungan.

Menurut Anda bagaimana Upaya untuk mewujudkan Pesantren bebas kekerasan?

Pencegahan dan penanganan kekerasan seksual di perguruan tinggi umum dan perguruan tinggi keagamaan negeri (PTKN) sudah berjalan dengan sangat aktif, terutama dalam hal sosialisasi. Hasilnya, hampir semua perguruan tinggi negeri memiliki aturan serta satgas pencegahan dan penanganan kekerasan seksual.

Namun, penerapan di lembaga pesantren masih belum signifikan. Sepertinya, ada jarak antara lembaga HAM dan pesantren. Oleh karena itu, diharapkan ke depan Komnas Perempuan dapat menjangkau lebih luas dan membantu dalam sosialisasi pencegahan dan penanganan kekerasan seksual di pesantren.

Meskipun pesantren belum memiliki mekanisme pencegahan dan penanganan yang terbentuk dengan baik, beberapa ruang untuk rehabilitasi atau pemulihan korban sudah tersedia melalui kerja sama dengan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan Dinas Perlindungan Perempuan dan Anak di tingkat kabupaten.

Dengan Maraknya Kasus yang kekerasan Seksual, Apakah pesantren sudah terbuka akan fakta ini?

Saat ini, pesantren mulai lebih terbuka dalam menerima sosialisasi, dan diskusi untuk membangun mekanisme pencegahan kekerasan, bullying, dan intoleransi mulai dilakukan. Salah satu contohnya adalah Pesantren Salafiyah Situbondo, yang sering mengadakan kegiatan nasional bersama komunitas disabilitas dan melibatkan KPAI untuk memberikan pengetahuan tentang perlindungan dan keamanan bagi para santri.

Kebijakan terkait pencegahan dan penanganan kekerasan seksual, bullying, dan intoleransi dapat disusun secara terbuka dan diketahui oleh seluruh komunitas pesantren—termasuk santri dan keluarga besar pesantren. Kebijakan tersebut juga harus tersosialisasikan secara efektif sehingga pesantren dapat menjadi lingkungan yang bebas kekerasan, bullying, dan intoleransi. Budaya anti kekerasan ini penting untuk terus disuarakan, karena melakukan kekerasan adalah dosa besar, dan bullying merupakan bentuk penghinaan terhadap martabat kemanusiaan.

Pesantren memiliki banyak ruang untuk menyuarakan budaya anti kekerasan, salah satunya melalui integrasi ke dalam kurikulum lokal, misalnya dalam pelajaran akhlak dan fiqih. Selain itu, kampanye penghargaan terhadap kemanusiaan di lingkungan pesantren juga sangat penting. Mekanisme pencegahan dan penanganan kekerasan seksual harus berfokus pada pemulihan martabat kemanusiaan, bukan pada pendekatan yang penuh kebencian atau penghukuman. Pendekatan hukuman terhadap anak justru dapat menimbulkan trauma yang berkepanjangan.

Langkah pentingnya adalah membudayakan prinsip-prinsip anti kekerasan, toleransi, dan anti bullying melalui kurikulum dan kampanye sosial. Dengan begitu, hal ini dapat membantu menekan angka kekerasan, bullying, dan intoleransi di lingkungan pendidikan keagamaan, termasuk pesantren.

Melalui pendekatan ini, pesantren dapat menjadi tempat yang aman bagi semua santri, serta memperkuat peran lembaga pendidikan agama dalam memberikan perlindungan yang komprehensif bagi para santri. Harapannya, dengan kebijakan dan sosialisasi yang efektif, pesantren dapat mewujudkan budaya non-kekerasan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Masih Relevankah Pondok Pesantren Zaman Sekarang?

Membicarakan pondok pesantren pada akhir-akhir ini memang menuai kritik dan pandangan sinis dari beberapa pihak, pasalnya hal ini didukung oleh menyebarnya kasus kekerasan seksual baik verbal maupun non-verbal yang dialami santri dari lingkungan pondok. Atau, kekerasan berbasis bulli yang rentan di pondok pesantren. 

Dilansir dari Kompas, menurut Federasi Serikat Guru Indonesia, sepanjang Januari hingga Agustus 2024, bahwasannya ada 101 anak menjadi korban kekerasan seksual di lembaga pendidikan. Dari 8 kasus, terdapat 3 kasus terjadi di pondok pesantren. Di mana, yang menjadi pelaku adalah menjabat sebagai seseorang yang mempunyai kedudukan di pesantren seperti pengasuh maupun ustadz menjadi otak dari kekerasan seksual yang terjadi.

Dari kasus yang semakin bermunculan inilah yang mengakibatkan nama pesantren tercemar. Mirisnya, dari kasus yang terjadi, agama sering dijadikan sebagai alasan untuk melancarkan aksinya. Dari beberapa kasus, yang disayangkan adalah pelaku yang berasal dari orang dalam pesantren, seperti Kiai maupun orang-orang yang mempunyai kedudukan tinggi di dalamnya. Maka dari itu, banyak orang tua yang akhirnya tidak mempercayai pesantren sebagai lembaga untuk mendalami ilmu agama maupun moral. 

Di masa sekarang, apakah pesantren masih layak dijadikan sebagai lembaga pendidikan keislaman? Yang mana  lembaga pendidikan seperti negeri dan swasta saling berlomba-lomba untuk menjadi yang terbaik. Entah dari segi kapabilitas maupun kapasitas.

Namun, dalam tulisan ini, saya mencoba menguraikan beberapa poin jika posisi pendidikan pesantren tidak bisa diganti dengan lembaga  manapun. 

Pertama, bahwasannya pesantren adalah lembaga untuk menjunjung nilai-nilai turas. Nilai-nilai turos di sini adalah warisan keilmuan yang diturunkan dari ulama-ulama terdahulu, baik ulama  Nusantara maupun ulama dari bangsa Arab, yang mana biasanya berbentuk di dalam kitab yang bertuliskan Arab dengan  bahasa Arab. Untuk memahami  kitab tersebut, pesantren merupakan satu-satunya  lembaga yang  masih mengadopsi pembelajaran kitab tersebut dengan metode yang khas maupun klasik.

Nila-nilai  turos tersebut tidak semerta-merta hanya  dibaca, tetapi banyak adanya pertukaran ide yang terjadi, mulai dari dibaca, dipahami, diimplementasikan di setiap sisi kehidupannya. Proses-proses inilah yang hanya bisa diperoleh di dalam lembaga pesantren saja.

Kedua, implementasi dari hidup yang bertasawuf  atau minimalism. Seperti yang kita ketahui, ulama-ulama dahulu  memilih untuk menyibukkan hidupnya dengan segala sesuatu yang memberikan dia manfaat lebih banyak dan meninggalkan gaya hidup yang berlebihan.

Salah satu lingkungan yang dibangun oleh pesantren adalah mencoba mengimplementasikan hidupnya sebagaimana dengan para ulama, mengejar kehidupan akhirat dan sebatasnya saja pada dunia. Memberlakukan hidup minimalis juga salah satu tujuan dari kehidupan yang baik, seperti membeli baju cukup dan tidak berlebihan, dan memanfaatkan hal-hal  yang masih layak.

Ketiga, pembentukan karakter pada anak. Hal ini yang menjadi pembeda di lembaga manapun, pesantren membersamai anak 24 jam, yang tentunya berbeda dengan lembaga pendidikan lainnya, pesantren membersamai anak dari bangun tidur hingga tidur lagi. Yang  tentunya di sela-sela tersebut terdapat kegiatan mulai dari kemandirian pola mereka dalam memanfaatkan waktu.

Dari tiga poin yang saya uraikan, tentunya  hal ini bisa menjadi pertimbangan dalam memilih pesantren sebagai lembaga yang dipercaya para orang tua. Nilai-nilai pesantren inilah yang tidak bisa diadopsi lembaga manapun, karena nilai-nilai tersebut erat dengan pesantren.

Selain itu, bijak dalam  memilih pesantren juga poin utama yang dapat dilakukan orang tua. Karena, dari adanya kejadian-kejadian di atas, orang tua juga dituntut untuk lebih selektif  dalam memilih lembaga  pesantren

Macam dan Dalil Adanya Syafa’at Rasulullah SAW

Macam-Macam Syafa’at

Hakim Iyadh, rahimahullah, penulis kitab “asy Syifa Fii Huquqi al Musthafa” menerangkan, bahwa syafaat itu terbagi menjadi lima bagian :

Syafaat Pertama: Khusus dengan perantaraan Nabi kita, Muhammad SAW. Syafaat ini bersifat menenangkan situasi dan mepercepat hisab, karena lamanya berdiri di tanah lapang pada hari kiamat. Tidak ada yang bisa memberikan syafaat ini kecuali beliau SAW, dan ini merupakan “syafaat uzhma (syafaat paling agung)”. Tidak ada seorangpun yang mengingkari syafaat ‘uzhma ini.

Syafaat Kedua: Untuk memasukkan kaum ke surga tanpa hisab. Dan ini juga khusus pada Nabi kita SAW, sebagaimana yang akan kami terangkan di dalam hadis-hadis yang akan kami sebutkan, insyaAllah Ta’ala.

Syafaat Ketiga: Untuk kaum yang ditetapkan masuk neraka, lalu Nabi SAW memberikan syafaat kepada mereka dan kepada siapa saja yang dikehendaki Allah, sampai mereka ditetapkan tidak masuk neraka.

Syafaat Keempat: Bagi orang-orang yang penuh dosa yang telah masuk neraka. Telah datang hadis-hadis shahih dengan mengeluarkan mereka dari neraka lantaran syafaat Nabi kita SAW, seluruh para Nabi as., para malaikat, dan orang-orang shalih dari hamba-hamba Allah yang mukmin.

Syafaat Kelima: Tentang penambahan derajat di dalam surga untuk ahli surga yang amal-amalnya tidak cukup untuk mencapainya. Beliaulah SAW pemilik wasilah yang paling tinggi kedudukannya di dalam surga.

Dalil Syafa’at

Dalil-dalil tentang syafaat ini banyak sekali, baik yang diambil dari ayat-ayat Al Qur’an maupun dari hadis-hadis Nabi SAW. Dalil dari ayat-ayat Al Qur’an di antaranya:

قُلْ لِلَّهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيعًا لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُون

“Katakanlah: “Hanya kepunyaan Allah syafaat itu semuanya. Kepunyaan-Nya kerajaan langit dan bumi. Kemudian kepadaNyalah kamu dikembalikan“.

Dalil Al Quran

Allah Ta’ala berfirman:

وَنَسُوقُ الْمُجْرِمِينَ إِلَى جَهَنَّمَ وِرْدًا. لَا يَمْلِكُونَ الشَّفَاعَةَ إِلَّا مَنِ اتَّخَذَ عِنْدَ الرَّحْمَنِ عَهْدًا

“Dan Kami akan menghalau orang-orang yang durhaka ke neraka Jahannam dalam keadaan dahaga. Mereka tidak berhak mendapat syafa’at kecuali orang yang telah mengadakan perjanjian di sisi Tuhan Yang Maha Pemurah”.

Allah Ta’ala berfirman:

وَتَبَارَكَ الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَعِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ وَلَا يَمْلِكُ الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ الشَّفَاعَةَ إِلَّا مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُون

“Dan Maha Suci Tuhan Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan apa yang ada di antara keduanya; dan di sisi-Nyalah pengetahuan tentang hari kiamat dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan. Dan sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memberi syafa’at; akan tetapi (orang yang dapat memberi syafa’at ialah) orang yang mengakui yang hak (tauhid) dan mereka meyakini(nya)”.

Allah Ta’ala berfirman:

يَوْمَئِذٍ لَا تَنْفَعُ الشَّفَاعَةُ إِلَّا مَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّحْمَنُ وَرَضِيَ لَهُ قَوْلاً

“Pada hari itu tidak berguna syafa’at, kecuali (syafa’at) orang yang Allah Maha Pemurah telah memberi izin kepadanya, dan Dia telah meridhai perkataannya”.

Firman Allah Ta’ala :

وَلَا تَنْفَعُ الشَّفَاعَةُ عِنْدَهُ إِلَّا لِمَنْ أَذِنَ لَهُ حَتَّى إِذَا فُزِّعَ عَنْ قُلُوبِهِمْ قَالُوا مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ قَالُوا الْحَقَّ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ

“Dan tiadalah berguna syafa’at di sisi Allah melainkan bagi orang yang telah diizinkan-Nya memperoleh syafa’at itu, sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka, mereka berkata “Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhan-mu?” Mereka menjawab: (Perkataan) yang benar”, dan Dia-lah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar”.

Firman Allah Ta’ala :

اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِ

“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar”.

Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang disebutkan di dalamnya, bahwa semua syafaat adalah milik Allah, dan milik hamba-hamba yang telah diizinkan dan diridlai oleh Allah untuk memberikan syafaat.

Dalil Hadis

Adapun dalil-dalil dari hadis sebagai berikut:

Diriwayatkan, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

شَفَاعَتِى لأَهْلِ الْكَبَائِرِ مِنْ أُمَّتِى

“Syafaatku untuk umatku yang ahli dosa besar”

Rasulullah SAW bersabda:

لِكُلِّ نَبِىٍّ دَعْـوَةٌ مُسْـتَجَابَةٌ فَتَعَجَّـلَ كُلُّ نَبِىٍّ دَعْوَتَـهُ وَإِنِّى اخْتَبَأْتُ دَعْـوَتِى شَــفَاعَةً لأُمَّـتِى يَوْمَ الْقِيَـامَـةِ فَهِىَ نَائـِلَةٌ إِنْ شَـاءَ اللَّهُ مَنْ مَـاتَ مِنْ أُمَّـتِى لاَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا

“Setiap Nabi mempunyai doa yang mustajabah, maka setiap Nabi doanya dikabulkan segera, sedangkan saya menyimpan doaku untuk memberikan syafaat kepada umatku di hari kiamat. Syafaat itu insya Allah diperoleh umatku yang meninggal tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun”.

Rasulullah SAW bersabda:

أَتَانِى آتٍ مِنْ عِنْدِ رَبِّى فَخَيَّرَنِى بَيْنَ أَنْ يُدْخِلَ نِصْفَ أُمَّتِى الْجَنَّةَ وَبَيْنَ الشَّفَاعَةِ فَاخْتَرْتُ الشَّفَاعَةَ وَهِىَ لِمَنْ مَاتَ لاَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا

“Telah datang kepadaku malaikat dari sisi Tuhanku Azza wa Jalla, lalu memberikan pilihan kepadaku: antara separuh umatku akan dimasukkan surga atau syafaat. Maka saya memilih syafaat, dan syafaat ini untuk orang yang meninggal tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun”.
Rasulullah SAW bersabda:

خُيِّرْتُ بَيْنَ الشَّفَاعَةِ وَبَيْنَ أَنْ يَدْخُلَ نِصْفُ أُمَّتِى الْجَنَّةَ فَاخْتَرْتُ الشَّفَاعَةَ لأَنَّهَا أَعَمُّ وَأَكْفَى أَتُرَوْنَهَا لِلْمُؤْمِنِيْنَ الْمُتَّقِينَ؟ لاَ, وَلَكِنَّهَا لِلْمُذْنِبِينَ الْخَطَّائِينَ الْمُتَلَوِّثِينَ

“Saya diberi pilihan antara syafaat dan separuh umatku akan dimasukkan surga. Maka saya memilih syafaat, karena syafaat itu lebih umum dan lebih banyak. Apakah kamu sekalian melihat bahwa, syafaat itu untuk orang-orang mukmin yang bertaqwa ?. Tidak, akan tetapi syafaat itu untuk orang-orang yang berdosa, penuh kesalahan, dan banyak kotoran”.

Rasulullah SAW bersabda :

“Di hadapan Allah ada hari kiamat : “Umatku, umatku”. Ini adalah doa yang akan dikabulkan secara nyata”.

Diriwayatkan dari Imron bin Hushain ra., Nabi SAW bersabda:

يَخْرُجُ قَوْمٌ مِنَ النَّارِ بِشَفَاعَةِ مُحَمَّدٍ فَيَدْخُلُونَ الْجَنَّة

“Ada satu kaum akan keluar dari neraka lantaran syafaat Muhammad, lalu mereka masuk surga”.[11]

Diriwayatkan dari Anas ra. berkata, “Rasulullah SAW bersabda:

أَنَا أَوَّلُ النَّاسِ يَشْفَعُ فِى الْجَنَّةِ وَأَنَا أَكْثَرُ الأَنْبِيَاءِ تَبَعًا

“Saya adalah orang yang pertama kali memberikan syafaat di surga, dan saya adalah Nabi yang paling banyak pengikutnya”.

Diriwayatkan dari Jabir ra. berkata :

هَلْ سَمِعْتَ بِمَقَامِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ؟ فَإِنَّهُ مَقَامُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَحْمُودُ الَّذِي يُخْرِجُ اللهُ بِهِ مَنْ يُخْرِجُ مِنَ النَّار

”Apakah kamu pernah mendengar tentang kedudukan Nabi Muhammad SAW? Sesungguhnya kedudukan Nabi Muhammad SAW yang terpuji akan mengeluarkan siapa saja yang akan dikeluarkan dari neraka lantaran syafaat beliau SAW”.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. berkata:

يَا رَسُولَ اللَّهِ ، مَنْ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ؟ قَالَ رَسولُ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم – : لَقَدْ ظَنَنْتُ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ أَنْ لاَ يَسْأَلَنِى عَنْ هَذَا الْحَدِيثِ أَحَدٌ أَوَّلُ مِنْكَ ، لِمَا رَأَيْتُ مِنْ حِرْصِكَ عَلَى الْحَدِيثِ ، أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ أَوْ نَفْسِه

”Saya katakan, ”Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berbahagia dengan syafaatmu di hari kiamat ?”. Beliau SAW bersabda : ”Sungguh saya telah mengira, wahai Abu Hurairah, hendaklah jangan ada seseorang yang lebih dahulu dari kamu menanyakan tentang hadis ini, karena saya memang melihat keinginanmu yang keras untuk mendengarkan hadis. Orang yang paling bahagia dengan syafaatku di hari kiamat adalah orang yang mengucapkan, “LAA ILAAHA ILLALLAH MUHAMMADUR RASULULLAH” dengan tulus dari hatinya atau jiwanya”.

Diriwayatkan dari Ummu Habibah ra. berkata : “ Rasulullah SAW bersabda :

أُرِيْتُ مَا تَلَقَّى أُمَّتِيْ بَعْدِيْ وَسَـفَكَ بَعْضُهُمْ دِمَاءَ بَعْضٍ فَأَحْزَنَنِيْ وَسَـبَقَ لَهُمْ مِنَ اللهِ مَا سَــبَق لِلْأُمَـمِ قَـبْلَـهُمْ. فَسَــأَلْتُ اللهَ أَنْ يُؤْتِيَـنِي فِيْهِمْ شَــفَاعَةً يَوْمَ اْلقِيَامَةِ فَفَعَـلَ

“Diperlihatkan kepadaku apa yang akan diperoleh umatku sesudahku. Sebagian mereka akan menumpahkan darah sebagian yang lain, sehingga menyedihkan hatiku, dan mereka memang telah ditakdirkan oleh Allah sebagaimana telah mentakdirkan umat-umat sebelum mereka. Maka saya memohon kepada Allah agar memberikan padaku syafaat untuk mereka di hari kiamat, maka Allah melakukannya.

Dalam kitab Shahih Muslim, demikian juga dalam kitab “al Anwar al Muhammadiyah”, ada hadis dari Abu Hurairah ra. dari Nabi SAW yang bersabda:

“Di hari kiamat, saya adalah sayyidnya manusia. Apakah kalian tahu, apa derajat sayyid itu? Allah telah mengumpulkan umat-umat terdahulu sampai umat-umat yang terakhir di satu tempat yang tinggi, maka orang yang memandang bisa melihat mereka, dan orang yang memanggil-manggil bisa memperdengarkan kepada mereka, matahari pun dekat dengan ubun-ubun manusia, sehingga manusia benar-benar sampai di puncak kesedihan yang mereka tidak sanggup menahannya dan tidak mampu memikulnya. Maka sebagian manusia berkata kepada sebagian yang lain, ‘Tidakkah kalian melihat keadaan kalian sekarang ini? Tidakkah kalian melihat apa yang telah sampai kepada kalian? Tidakkah kalian melihat orang yang bisa memberikan syafaat kalian kepada Tuhan kalian?’. Maka sebagian manusia mengatakan kepada sebagian yang lain, ‘Datanglah kepada Nabi Adam!’. Lalu mereka datang kepada Nabi Adam as. dan mereka mengatakan, ”Wahai Adam, kamu adalah bapak semua manusia, Allah telah menciptakan kamu dengan kekuasaan-Nya, meniupkan ruhmu dari ruh-Nya, memerintahkan malaikat, lalu bersujud kepadamu, dan pernah menempatkan kamu di surga, maka berilah kami syafaat kepada Tuhanmu. Tidakkah kamu melihat keadaan kami sekarang? Tidakkah kamu melihat sesuatu yang telah sampai kepada kami?’.

Maka Nabi Adam as. Berkata, ‘Sesungguhnya Tuhanku sekarang ini sangat murka yang belum pernah murka seperti ini sebelumnya, dan tidak akan murka seperti ini lagi. Sesungguhnya Dia melarangku dari pohon, lalu saya mendurhakainya, saya sibuk dengan diriku sendiri, diriku sendiri, diriku sendiri, pergilah kepada selainku, pergilah kepada Nuh’. Lalu mereka datang kepada Nabi Nuh as. Lalu mereka mengatakan, ‘Wahai Nuh, kamu adalah Rasul pertama yang diutus kepada penduduk bumi, dan Allah memberimu nama hamba yang banyak bersyukur. Maukah kamu memberikan syafaat untuk kami kepada Tuhanmu, tidakkah kamu melihat keadaan kami sekarang? Tidakkah kamu melihat sesuatu yang telah sampai kepada kami?’.

Maka Nabi Nuh as. berkata kepada mereka, ‘Sesungguhnya Tuhanku sekarang ini sangat murka dengan murka yang belum pernah murka seperti ini sebelumnya, dan tidak akan murka seperti ini lagi. Sesungguhnya saya mempunyai doa yang saya doakan untuk kaumku, saya sibuk dengan diriku sendiri, diriku sendiri, diriku sendiri, pergilah kepada selainku, pergilah kepada Ibrahim’. Maka mereka mendatangi Nabi Ibrahim as., lalu mengatakan, ‘Kamu adalah Nabi Allah, dan kekasih-Nya dari penduduk bumi, maka berilah kami syafaat kepada Tuhanmu! Tidakkah kamu melihat keadaan kami sekarang? Tidakkah kamu melihat sesuatu yang telah sampai kepada kami?’. Maka Nabi Ibrahim as. berkata kepada mereka, ‘Sesungguhnya Tuhanku sekarang ini sangat murka dengan murka yang belum pernah murka seperti ini sebelumnya, dan tidak akan murka seperti ini lagi. Sesungguhnya saya pernah berbohong tiga kali, lalu menyebutkannya. saya sibuk dengan diriku sendiri, diriku sendiri, diriku sendiri, pergilah kepada selainku, pergilah kepada Musa!’.

Maka mereka mendatangi Nabi Musa as., lalu mengatakan, ‘Wahai Musa, kamu adalah utusan Allah, dan Allah telah memberikan keutamaan kepadamu melebih manusia dengan risalah-Nya dan dengan berbicara dengan-Nya, maka berilah kami syafaat kepada Tuhanmu! Tidakkah kamu melihat keadaan kami sekarang? Tidakkah kamu melihat sesuatu yang telah sampai kepada kami?’. Maka Nabi Musa as. berkata kepada mereka, ‘Sesungguhnya Tuhanku sekarang ini sangat murka dengan murka yang belum pernah murka seperti ini sebelumnya, dan tidak akan murka seperti ini lagi”. Sesungguhnya saya pernah membunuh seseorang yang saya tidak diperintahkan untuk membunuhnya, saya sibuk dengan diriku sendiri, diriku sendiri, diriku sendiri, pergilah kepada selainku, pergilah kepada Isa!’. Maka mereka mendatangi Nabi Isa as., lalu mengatakan, ‘Wahai Isa, kamu adalah Rasul Allah dan kalimat-Nya yang diberikan kepada Maryam dan kamu adalah ruh dari-Nya, dan kamu bisa berbicara dengan manusia di dalam kandungan perut ibunya. Maka berilah kami syafaat kepada Tuhanmu! Tidakkah kamu melihat keadaan kami sekarang? Tidakkah kamu melihat sesuatu yang telah sampai kepada kami?’. Maka Nabi Isa as. berkata kepada mereka, ‘Sesungguhnya Tuhanku sekarang ini sangat murka dengan murka yang belum pernah murka seperti ini sebelumnya, dan tidak akan murka seperti ini lagi’. Nabi Isa as. tidak menyebutkan satu dosapun. Saya sibuk dengan diriku sendiri, diriku sendiri, diriku sendiri, pergilah kepada selainku, pergilah kepada Muhammad!’.

Maka mereka mendatangiku, lalu mengatakan, “Wahai Muhammad, engkau adalah Rasul Allah, dan Nabi yang terakhir, dan Allah telah mengampuni dosamu yang telah lewat dan yang akan datang, maka berilah kami syafaat kepada Tuhanmu! Tidakkah kamu melihat keadaan kami sekarang? Tidakkah kamu melihat sesuatu yang telah sampai kepada kami?’. Maka saya berangkat mendatangi tempat di bawah ‘Arsy, maka saya langsung bersujud kepada Tuhanku, kemudian Allah membukakan untukku sesuatu yang belum pernah dibukakan kepada siapapun sebelumku, dan memberikan ilham kepadaku dari pujian-pujian-Nya dan sanjungan-Nya yang bagus, kemudian berfirman, ‘Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu, mintalah, maka kamu akan diberi, mintalah syafaat, maka kamu akan diberi syafaat’. Saya angkat kepalaku, lalu saya katakan, ‘Wahai Tuhanku, umatku, wahai Tuhanku umatku, wahai Tuhanku”. Maka difirmankan, ”Wahai Muhammad, masukkanlah umatmu ke surga seperti orang yang masuk surga tanpa hisab, dari pintu kanannya pintu-pintu surga. Mereka adalah para teman orang-orang yang masuk surga dari pintu selain itu”. Demi Allah Yang jiwa Muhammad berada dalam kekuasaan-Nya, sesungguhnya lebarnya pintu-pintu surga itu seperti jarak antara Makkah dan Hajar, atau seperti Makkah dan Bushra’”.

Membantah Pendapat Tidak Ada Syafa’at

Yang mengherankan adalah bahwa, sebagian manusia mengatakan dengan melarang syafaat dan menganggapnya tidak ada gunanya, dengan mengambil dalil dari beberapa ayat, seperti firman Allah:

وَاتَّقُوا يَوْمًا لَا تَجْزِي نَفْسٌ عَنْ نَفْسٍ شَيْئًا وَلَا يُقْبَلُ مِنْهَا شَفَاعَةٌ وَلَا يُؤْخَذُ مِنْهَا عَدْلٌ وَلَا هُمْ يُنْصَرُون

“Dan jagalah dirimu dari (azab) hari (kiamat, yang pada hari itu) seseorang tidak dapat membela orang lain, walau sedikitpun; dan (begitu pula) tidak diterima syafa’at dan tebusan dari padanya, dan tidaklah mereka akan ditolong”.

Allah Ta’ala berfirman :

وَأَنْذِرْهُمْ يَوْمَ الْآَزِفَةِ إِذِ الْقُلُوبُ لَدَى الْحَنَاجِرِ كَاظِمِينَ مَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ حَمِيمٍ وَلَا شَفِيعٍ يُطَاعُ

“Berilah mereka peringatan dengan hari yang dekat (hari kiamat yaitu) ketika hati (menyesak) sampai di kerongkongan dengan menahan kesedihan. Orang-orang yang zalim tidak mempunyai teman setia seorangpun dan tidak (pula) mempunyai seorang pemberi syafa’at yang diterima syafa’atnya”.
Allah Ta’ala berfirman :

مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ . قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ. وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ الْخَائِضِين. وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوْمِ الدِّينِ. حَتَّى أَتَانَا الْيَقِينُ فَمَا تَنْفَعُهُمْ شَفَاعَةُ الشَّافِعِين

“Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?’ Mereka menjawab, ‘Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, dan adalah kami membicarakan yang bathil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan adalah kami mendustakan hari pembalasan, hingga datang kepada kami kematian.’ Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa’at dari orang-orang yang memberikan syafa’at”.

Saya jawab, bahwa ayat-ayat ini mempunyai maksud dua hal :

Pertama, bahwa syafaat itu tidak ada gunanya bagi orang-orang musyrik, mereka itu dihapuskan oleh Allah dari syafaatnya orang-orang yang bisa memberikan syafaat, karena mereka itu orang-orang kafir.

Kedua, ayat-ayat itu bermaksud menghapuskan syafaat yang ditetapkan untuk ahlu syirik dan orang-orang yang serupa dengan mereka, seperti ahlu bid’ah yang mengira bahwa teman-teman mereka di dunia akan bisa memberikan syafaat di sisi Allah di akhirat, ini adalah kesesatan yang tidak diragukan lagi. Kami memohon kepada Allah Azza wa Jalla, semoga memberikan kita taufiq kepada kebenaran, dan membebaskan kita dari pedihnya siksa dan buruknya adzab.