Masih Relevankah Pondok Pesantren Zaman Sekarang?

Membicarakan pondok pesantren pada akhir-akhir ini memang menuai kritik dan pandangan sinis dari beberapa pihak, pasalnya hal ini didukung oleh menyebarnya kasus kekerasan seksual baik verbal maupun non-verbal yang dialami santri dari lingkungan pondok. Atau, kekerasan berbasis bulli yang rentan di pondok pesantren. 

Dilansir dari Kompas, menurut Federasi Serikat Guru Indonesia, sepanjang Januari hingga Agustus 2024, bahwasannya ada 101 anak menjadi korban kekerasan seksual di lembaga pendidikan. Dari 8 kasus, terdapat 3 kasus terjadi di pondok pesantren. Di mana, yang menjadi pelaku adalah menjabat sebagai seseorang yang mempunyai kedudukan di pesantren seperti pengasuh maupun ustadz menjadi otak dari kekerasan seksual yang terjadi.

Dari kasus yang semakin bermunculan inilah yang mengakibatkan nama pesantren tercemar. Mirisnya, dari kasus yang terjadi, agama sering dijadikan sebagai alasan untuk melancarkan aksinya. Dari beberapa kasus, yang disayangkan adalah pelaku yang berasal dari orang dalam pesantren, seperti Kiai maupun orang-orang yang mempunyai kedudukan tinggi di dalamnya. Maka dari itu, banyak orang tua yang akhirnya tidak mempercayai pesantren sebagai lembaga untuk mendalami ilmu agama maupun moral. 

Di masa sekarang, apakah pesantren masih layak dijadikan sebagai lembaga pendidikan keislaman? Yang mana  lembaga pendidikan seperti negeri dan swasta saling berlomba-lomba untuk menjadi yang terbaik. Entah dari segi kapabilitas maupun kapasitas.

Namun, dalam tulisan ini, saya mencoba menguraikan beberapa poin jika posisi pendidikan pesantren tidak bisa diganti dengan lembaga  manapun. 

Pertama, bahwasannya pesantren adalah lembaga untuk menjunjung nilai-nilai turas. Nilai-nilai turos di sini adalah warisan keilmuan yang diturunkan dari ulama-ulama terdahulu, baik ulama  Nusantara maupun ulama dari bangsa Arab, yang mana biasanya berbentuk di dalam kitab yang bertuliskan Arab dengan  bahasa Arab. Untuk memahami  kitab tersebut, pesantren merupakan satu-satunya  lembaga yang  masih mengadopsi pembelajaran kitab tersebut dengan metode yang khas maupun klasik.

Nila-nilai  turos tersebut tidak semerta-merta hanya  dibaca, tetapi banyak adanya pertukaran ide yang terjadi, mulai dari dibaca, dipahami, diimplementasikan di setiap sisi kehidupannya. Proses-proses inilah yang hanya bisa diperoleh di dalam lembaga pesantren saja.

Kedua, implementasi dari hidup yang bertasawuf  atau minimalism. Seperti yang kita ketahui, ulama-ulama dahulu  memilih untuk menyibukkan hidupnya dengan segala sesuatu yang memberikan dia manfaat lebih banyak dan meninggalkan gaya hidup yang berlebihan.

Salah satu lingkungan yang dibangun oleh pesantren adalah mencoba mengimplementasikan hidupnya sebagaimana dengan para ulama, mengejar kehidupan akhirat dan sebatasnya saja pada dunia. Memberlakukan hidup minimalis juga salah satu tujuan dari kehidupan yang baik, seperti membeli baju cukup dan tidak berlebihan, dan memanfaatkan hal-hal  yang masih layak.

Ketiga, pembentukan karakter pada anak. Hal ini yang menjadi pembeda di lembaga manapun, pesantren membersamai anak 24 jam, yang tentunya berbeda dengan lembaga pendidikan lainnya, pesantren membersamai anak dari bangun tidur hingga tidur lagi. Yang  tentunya di sela-sela tersebut terdapat kegiatan mulai dari kemandirian pola mereka dalam memanfaatkan waktu.

Dari tiga poin yang saya uraikan, tentunya  hal ini bisa menjadi pertimbangan dalam memilih pesantren sebagai lembaga yang dipercaya para orang tua. Nilai-nilai pesantren inilah yang tidak bisa diadopsi lembaga manapun, karena nilai-nilai tersebut erat dengan pesantren.

Selain itu, bijak dalam  memilih pesantren juga poin utama yang dapat dilakukan orang tua. Karena, dari adanya kejadian-kejadian di atas, orang tua juga dituntut untuk lebih selektif  dalam memilih lembaga  pesantren

Macam dan Dalil Adanya Syafa’at Rasulullah SAW

Macam-Macam Syafa’at

Hakim Iyadh, rahimahullah, penulis kitab “asy Syifa Fii Huquqi al Musthafa” menerangkan, bahwa syafaat itu terbagi menjadi lima bagian :

Syafaat Pertama: Khusus dengan perantaraan Nabi kita, Muhammad SAW. Syafaat ini bersifat menenangkan situasi dan mepercepat hisab, karena lamanya berdiri di tanah lapang pada hari kiamat. Tidak ada yang bisa memberikan syafaat ini kecuali beliau SAW, dan ini merupakan “syafaat uzhma (syafaat paling agung)”. Tidak ada seorangpun yang mengingkari syafaat ‘uzhma ini.

Syafaat Kedua: Untuk memasukkan kaum ke surga tanpa hisab. Dan ini juga khusus pada Nabi kita SAW, sebagaimana yang akan kami terangkan di dalam hadis-hadis yang akan kami sebutkan, insyaAllah Ta’ala.

Syafaat Ketiga: Untuk kaum yang ditetapkan masuk neraka, lalu Nabi SAW memberikan syafaat kepada mereka dan kepada siapa saja yang dikehendaki Allah, sampai mereka ditetapkan tidak masuk neraka.

Syafaat Keempat: Bagi orang-orang yang penuh dosa yang telah masuk neraka. Telah datang hadis-hadis shahih dengan mengeluarkan mereka dari neraka lantaran syafaat Nabi kita SAW, seluruh para Nabi as., para malaikat, dan orang-orang shalih dari hamba-hamba Allah yang mukmin.

Syafaat Kelima: Tentang penambahan derajat di dalam surga untuk ahli surga yang amal-amalnya tidak cukup untuk mencapainya. Beliaulah SAW pemilik wasilah yang paling tinggi kedudukannya di dalam surga.

Dalil Syafa’at

Dalil-dalil tentang syafaat ini banyak sekali, baik yang diambil dari ayat-ayat Al Qur’an maupun dari hadis-hadis Nabi SAW. Dalil dari ayat-ayat Al Qur’an di antaranya:

قُلْ لِلَّهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيعًا لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُون

“Katakanlah: “Hanya kepunyaan Allah syafaat itu semuanya. Kepunyaan-Nya kerajaan langit dan bumi. Kemudian kepadaNyalah kamu dikembalikan“.

Dalil Al Quran

Allah Ta’ala berfirman:

وَنَسُوقُ الْمُجْرِمِينَ إِلَى جَهَنَّمَ وِرْدًا. لَا يَمْلِكُونَ الشَّفَاعَةَ إِلَّا مَنِ اتَّخَذَ عِنْدَ الرَّحْمَنِ عَهْدًا

“Dan Kami akan menghalau orang-orang yang durhaka ke neraka Jahannam dalam keadaan dahaga. Mereka tidak berhak mendapat syafa’at kecuali orang yang telah mengadakan perjanjian di sisi Tuhan Yang Maha Pemurah”.

Allah Ta’ala berfirman:

وَتَبَارَكَ الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَعِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ وَلَا يَمْلِكُ الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ الشَّفَاعَةَ إِلَّا مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُون

“Dan Maha Suci Tuhan Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan apa yang ada di antara keduanya; dan di sisi-Nyalah pengetahuan tentang hari kiamat dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan. Dan sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memberi syafa’at; akan tetapi (orang yang dapat memberi syafa’at ialah) orang yang mengakui yang hak (tauhid) dan mereka meyakini(nya)”.

Allah Ta’ala berfirman:

يَوْمَئِذٍ لَا تَنْفَعُ الشَّفَاعَةُ إِلَّا مَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّحْمَنُ وَرَضِيَ لَهُ قَوْلاً

“Pada hari itu tidak berguna syafa’at, kecuali (syafa’at) orang yang Allah Maha Pemurah telah memberi izin kepadanya, dan Dia telah meridhai perkataannya”.

Firman Allah Ta’ala :

وَلَا تَنْفَعُ الشَّفَاعَةُ عِنْدَهُ إِلَّا لِمَنْ أَذِنَ لَهُ حَتَّى إِذَا فُزِّعَ عَنْ قُلُوبِهِمْ قَالُوا مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ قَالُوا الْحَقَّ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ

“Dan tiadalah berguna syafa’at di sisi Allah melainkan bagi orang yang telah diizinkan-Nya memperoleh syafa’at itu, sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka, mereka berkata “Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhan-mu?” Mereka menjawab: (Perkataan) yang benar”, dan Dia-lah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar”.

Firman Allah Ta’ala :

اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِ

“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar”.

Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang disebutkan di dalamnya, bahwa semua syafaat adalah milik Allah, dan milik hamba-hamba yang telah diizinkan dan diridlai oleh Allah untuk memberikan syafaat.

Dalil Hadis

Adapun dalil-dalil dari hadis sebagai berikut:

Diriwayatkan, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

شَفَاعَتِى لأَهْلِ الْكَبَائِرِ مِنْ أُمَّتِى

“Syafaatku untuk umatku yang ahli dosa besar”

Rasulullah SAW bersabda:

لِكُلِّ نَبِىٍّ دَعْـوَةٌ مُسْـتَجَابَةٌ فَتَعَجَّـلَ كُلُّ نَبِىٍّ دَعْوَتَـهُ وَإِنِّى اخْتَبَأْتُ دَعْـوَتِى شَــفَاعَةً لأُمَّـتِى يَوْمَ الْقِيَـامَـةِ فَهِىَ نَائـِلَةٌ إِنْ شَـاءَ اللَّهُ مَنْ مَـاتَ مِنْ أُمَّـتِى لاَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا

“Setiap Nabi mempunyai doa yang mustajabah, maka setiap Nabi doanya dikabulkan segera, sedangkan saya menyimpan doaku untuk memberikan syafaat kepada umatku di hari kiamat. Syafaat itu insya Allah diperoleh umatku yang meninggal tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun”.

Rasulullah SAW bersabda:

أَتَانِى آتٍ مِنْ عِنْدِ رَبِّى فَخَيَّرَنِى بَيْنَ أَنْ يُدْخِلَ نِصْفَ أُمَّتِى الْجَنَّةَ وَبَيْنَ الشَّفَاعَةِ فَاخْتَرْتُ الشَّفَاعَةَ وَهِىَ لِمَنْ مَاتَ لاَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا

“Telah datang kepadaku malaikat dari sisi Tuhanku Azza wa Jalla, lalu memberikan pilihan kepadaku: antara separuh umatku akan dimasukkan surga atau syafaat. Maka saya memilih syafaat, dan syafaat ini untuk orang yang meninggal tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun”.
Rasulullah SAW bersabda:

خُيِّرْتُ بَيْنَ الشَّفَاعَةِ وَبَيْنَ أَنْ يَدْخُلَ نِصْفُ أُمَّتِى الْجَنَّةَ فَاخْتَرْتُ الشَّفَاعَةَ لأَنَّهَا أَعَمُّ وَأَكْفَى أَتُرَوْنَهَا لِلْمُؤْمِنِيْنَ الْمُتَّقِينَ؟ لاَ, وَلَكِنَّهَا لِلْمُذْنِبِينَ الْخَطَّائِينَ الْمُتَلَوِّثِينَ

“Saya diberi pilihan antara syafaat dan separuh umatku akan dimasukkan surga. Maka saya memilih syafaat, karena syafaat itu lebih umum dan lebih banyak. Apakah kamu sekalian melihat bahwa, syafaat itu untuk orang-orang mukmin yang bertaqwa ?. Tidak, akan tetapi syafaat itu untuk orang-orang yang berdosa, penuh kesalahan, dan banyak kotoran”.

Rasulullah SAW bersabda :

“Di hadapan Allah ada hari kiamat : “Umatku, umatku”. Ini adalah doa yang akan dikabulkan secara nyata”.

Diriwayatkan dari Imron bin Hushain ra., Nabi SAW bersabda:

يَخْرُجُ قَوْمٌ مِنَ النَّارِ بِشَفَاعَةِ مُحَمَّدٍ فَيَدْخُلُونَ الْجَنَّة

“Ada satu kaum akan keluar dari neraka lantaran syafaat Muhammad, lalu mereka masuk surga”.[11]

Diriwayatkan dari Anas ra. berkata, “Rasulullah SAW bersabda:

أَنَا أَوَّلُ النَّاسِ يَشْفَعُ فِى الْجَنَّةِ وَأَنَا أَكْثَرُ الأَنْبِيَاءِ تَبَعًا

“Saya adalah orang yang pertama kali memberikan syafaat di surga, dan saya adalah Nabi yang paling banyak pengikutnya”.

Diriwayatkan dari Jabir ra. berkata :

هَلْ سَمِعْتَ بِمَقَامِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ؟ فَإِنَّهُ مَقَامُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَحْمُودُ الَّذِي يُخْرِجُ اللهُ بِهِ مَنْ يُخْرِجُ مِنَ النَّار

”Apakah kamu pernah mendengar tentang kedudukan Nabi Muhammad SAW? Sesungguhnya kedudukan Nabi Muhammad SAW yang terpuji akan mengeluarkan siapa saja yang akan dikeluarkan dari neraka lantaran syafaat beliau SAW”.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. berkata:

يَا رَسُولَ اللَّهِ ، مَنْ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ؟ قَالَ رَسولُ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم – : لَقَدْ ظَنَنْتُ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ أَنْ لاَ يَسْأَلَنِى عَنْ هَذَا الْحَدِيثِ أَحَدٌ أَوَّلُ مِنْكَ ، لِمَا رَأَيْتُ مِنْ حِرْصِكَ عَلَى الْحَدِيثِ ، أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ أَوْ نَفْسِه

”Saya katakan, ”Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berbahagia dengan syafaatmu di hari kiamat ?”. Beliau SAW bersabda : ”Sungguh saya telah mengira, wahai Abu Hurairah, hendaklah jangan ada seseorang yang lebih dahulu dari kamu menanyakan tentang hadis ini, karena saya memang melihat keinginanmu yang keras untuk mendengarkan hadis. Orang yang paling bahagia dengan syafaatku di hari kiamat adalah orang yang mengucapkan, “LAA ILAAHA ILLALLAH MUHAMMADUR RASULULLAH” dengan tulus dari hatinya atau jiwanya”.

Diriwayatkan dari Ummu Habibah ra. berkata : “ Rasulullah SAW bersabda :

أُرِيْتُ مَا تَلَقَّى أُمَّتِيْ بَعْدِيْ وَسَـفَكَ بَعْضُهُمْ دِمَاءَ بَعْضٍ فَأَحْزَنَنِيْ وَسَـبَقَ لَهُمْ مِنَ اللهِ مَا سَــبَق لِلْأُمَـمِ قَـبْلَـهُمْ. فَسَــأَلْتُ اللهَ أَنْ يُؤْتِيَـنِي فِيْهِمْ شَــفَاعَةً يَوْمَ اْلقِيَامَةِ فَفَعَـلَ

“Diperlihatkan kepadaku apa yang akan diperoleh umatku sesudahku. Sebagian mereka akan menumpahkan darah sebagian yang lain, sehingga menyedihkan hatiku, dan mereka memang telah ditakdirkan oleh Allah sebagaimana telah mentakdirkan umat-umat sebelum mereka. Maka saya memohon kepada Allah agar memberikan padaku syafaat untuk mereka di hari kiamat, maka Allah melakukannya.

Dalam kitab Shahih Muslim, demikian juga dalam kitab “al Anwar al Muhammadiyah”, ada hadis dari Abu Hurairah ra. dari Nabi SAW yang bersabda:

“Di hari kiamat, saya adalah sayyidnya manusia. Apakah kalian tahu, apa derajat sayyid itu? Allah telah mengumpulkan umat-umat terdahulu sampai umat-umat yang terakhir di satu tempat yang tinggi, maka orang yang memandang bisa melihat mereka, dan orang yang memanggil-manggil bisa memperdengarkan kepada mereka, matahari pun dekat dengan ubun-ubun manusia, sehingga manusia benar-benar sampai di puncak kesedihan yang mereka tidak sanggup menahannya dan tidak mampu memikulnya. Maka sebagian manusia berkata kepada sebagian yang lain, ‘Tidakkah kalian melihat keadaan kalian sekarang ini? Tidakkah kalian melihat apa yang telah sampai kepada kalian? Tidakkah kalian melihat orang yang bisa memberikan syafaat kalian kepada Tuhan kalian?’. Maka sebagian manusia mengatakan kepada sebagian yang lain, ‘Datanglah kepada Nabi Adam!’. Lalu mereka datang kepada Nabi Adam as. dan mereka mengatakan, ”Wahai Adam, kamu adalah bapak semua manusia, Allah telah menciptakan kamu dengan kekuasaan-Nya, meniupkan ruhmu dari ruh-Nya, memerintahkan malaikat, lalu bersujud kepadamu, dan pernah menempatkan kamu di surga, maka berilah kami syafaat kepada Tuhanmu. Tidakkah kamu melihat keadaan kami sekarang? Tidakkah kamu melihat sesuatu yang telah sampai kepada kami?’.

Maka Nabi Adam as. Berkata, ‘Sesungguhnya Tuhanku sekarang ini sangat murka yang belum pernah murka seperti ini sebelumnya, dan tidak akan murka seperti ini lagi. Sesungguhnya Dia melarangku dari pohon, lalu saya mendurhakainya, saya sibuk dengan diriku sendiri, diriku sendiri, diriku sendiri, pergilah kepada selainku, pergilah kepada Nuh’. Lalu mereka datang kepada Nabi Nuh as. Lalu mereka mengatakan, ‘Wahai Nuh, kamu adalah Rasul pertama yang diutus kepada penduduk bumi, dan Allah memberimu nama hamba yang banyak bersyukur. Maukah kamu memberikan syafaat untuk kami kepada Tuhanmu, tidakkah kamu melihat keadaan kami sekarang? Tidakkah kamu melihat sesuatu yang telah sampai kepada kami?’.

Maka Nabi Nuh as. berkata kepada mereka, ‘Sesungguhnya Tuhanku sekarang ini sangat murka dengan murka yang belum pernah murka seperti ini sebelumnya, dan tidak akan murka seperti ini lagi. Sesungguhnya saya mempunyai doa yang saya doakan untuk kaumku, saya sibuk dengan diriku sendiri, diriku sendiri, diriku sendiri, pergilah kepada selainku, pergilah kepada Ibrahim’. Maka mereka mendatangi Nabi Ibrahim as., lalu mengatakan, ‘Kamu adalah Nabi Allah, dan kekasih-Nya dari penduduk bumi, maka berilah kami syafaat kepada Tuhanmu! Tidakkah kamu melihat keadaan kami sekarang? Tidakkah kamu melihat sesuatu yang telah sampai kepada kami?’. Maka Nabi Ibrahim as. berkata kepada mereka, ‘Sesungguhnya Tuhanku sekarang ini sangat murka dengan murka yang belum pernah murka seperti ini sebelumnya, dan tidak akan murka seperti ini lagi. Sesungguhnya saya pernah berbohong tiga kali, lalu menyebutkannya. saya sibuk dengan diriku sendiri, diriku sendiri, diriku sendiri, pergilah kepada selainku, pergilah kepada Musa!’.

Maka mereka mendatangi Nabi Musa as., lalu mengatakan, ‘Wahai Musa, kamu adalah utusan Allah, dan Allah telah memberikan keutamaan kepadamu melebih manusia dengan risalah-Nya dan dengan berbicara dengan-Nya, maka berilah kami syafaat kepada Tuhanmu! Tidakkah kamu melihat keadaan kami sekarang? Tidakkah kamu melihat sesuatu yang telah sampai kepada kami?’. Maka Nabi Musa as. berkata kepada mereka, ‘Sesungguhnya Tuhanku sekarang ini sangat murka dengan murka yang belum pernah murka seperti ini sebelumnya, dan tidak akan murka seperti ini lagi”. Sesungguhnya saya pernah membunuh seseorang yang saya tidak diperintahkan untuk membunuhnya, saya sibuk dengan diriku sendiri, diriku sendiri, diriku sendiri, pergilah kepada selainku, pergilah kepada Isa!’. Maka mereka mendatangi Nabi Isa as., lalu mengatakan, ‘Wahai Isa, kamu adalah Rasul Allah dan kalimat-Nya yang diberikan kepada Maryam dan kamu adalah ruh dari-Nya, dan kamu bisa berbicara dengan manusia di dalam kandungan perut ibunya. Maka berilah kami syafaat kepada Tuhanmu! Tidakkah kamu melihat keadaan kami sekarang? Tidakkah kamu melihat sesuatu yang telah sampai kepada kami?’. Maka Nabi Isa as. berkata kepada mereka, ‘Sesungguhnya Tuhanku sekarang ini sangat murka dengan murka yang belum pernah murka seperti ini sebelumnya, dan tidak akan murka seperti ini lagi’. Nabi Isa as. tidak menyebutkan satu dosapun. Saya sibuk dengan diriku sendiri, diriku sendiri, diriku sendiri, pergilah kepada selainku, pergilah kepada Muhammad!’.

Maka mereka mendatangiku, lalu mengatakan, “Wahai Muhammad, engkau adalah Rasul Allah, dan Nabi yang terakhir, dan Allah telah mengampuni dosamu yang telah lewat dan yang akan datang, maka berilah kami syafaat kepada Tuhanmu! Tidakkah kamu melihat keadaan kami sekarang? Tidakkah kamu melihat sesuatu yang telah sampai kepada kami?’. Maka saya berangkat mendatangi tempat di bawah ‘Arsy, maka saya langsung bersujud kepada Tuhanku, kemudian Allah membukakan untukku sesuatu yang belum pernah dibukakan kepada siapapun sebelumku, dan memberikan ilham kepadaku dari pujian-pujian-Nya dan sanjungan-Nya yang bagus, kemudian berfirman, ‘Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu, mintalah, maka kamu akan diberi, mintalah syafaat, maka kamu akan diberi syafaat’. Saya angkat kepalaku, lalu saya katakan, ‘Wahai Tuhanku, umatku, wahai Tuhanku umatku, wahai Tuhanku”. Maka difirmankan, ”Wahai Muhammad, masukkanlah umatmu ke surga seperti orang yang masuk surga tanpa hisab, dari pintu kanannya pintu-pintu surga. Mereka adalah para teman orang-orang yang masuk surga dari pintu selain itu”. Demi Allah Yang jiwa Muhammad berada dalam kekuasaan-Nya, sesungguhnya lebarnya pintu-pintu surga itu seperti jarak antara Makkah dan Hajar, atau seperti Makkah dan Bushra’”.

Membantah Pendapat Tidak Ada Syafa’at

Yang mengherankan adalah bahwa, sebagian manusia mengatakan dengan melarang syafaat dan menganggapnya tidak ada gunanya, dengan mengambil dalil dari beberapa ayat, seperti firman Allah:

وَاتَّقُوا يَوْمًا لَا تَجْزِي نَفْسٌ عَنْ نَفْسٍ شَيْئًا وَلَا يُقْبَلُ مِنْهَا شَفَاعَةٌ وَلَا يُؤْخَذُ مِنْهَا عَدْلٌ وَلَا هُمْ يُنْصَرُون

“Dan jagalah dirimu dari (azab) hari (kiamat, yang pada hari itu) seseorang tidak dapat membela orang lain, walau sedikitpun; dan (begitu pula) tidak diterima syafa’at dan tebusan dari padanya, dan tidaklah mereka akan ditolong”.

Allah Ta’ala berfirman :

وَأَنْذِرْهُمْ يَوْمَ الْآَزِفَةِ إِذِ الْقُلُوبُ لَدَى الْحَنَاجِرِ كَاظِمِينَ مَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ حَمِيمٍ وَلَا شَفِيعٍ يُطَاعُ

“Berilah mereka peringatan dengan hari yang dekat (hari kiamat yaitu) ketika hati (menyesak) sampai di kerongkongan dengan menahan kesedihan. Orang-orang yang zalim tidak mempunyai teman setia seorangpun dan tidak (pula) mempunyai seorang pemberi syafa’at yang diterima syafa’atnya”.
Allah Ta’ala berfirman :

مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ . قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ. وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ الْخَائِضِين. وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوْمِ الدِّينِ. حَتَّى أَتَانَا الْيَقِينُ فَمَا تَنْفَعُهُمْ شَفَاعَةُ الشَّافِعِين

“Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?’ Mereka menjawab, ‘Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, dan adalah kami membicarakan yang bathil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan adalah kami mendustakan hari pembalasan, hingga datang kepada kami kematian.’ Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa’at dari orang-orang yang memberikan syafa’at”.

Saya jawab, bahwa ayat-ayat ini mempunyai maksud dua hal :

Pertama, bahwa syafaat itu tidak ada gunanya bagi orang-orang musyrik, mereka itu dihapuskan oleh Allah dari syafaatnya orang-orang yang bisa memberikan syafaat, karena mereka itu orang-orang kafir.

Kedua, ayat-ayat itu bermaksud menghapuskan syafaat yang ditetapkan untuk ahlu syirik dan orang-orang yang serupa dengan mereka, seperti ahlu bid’ah yang mengira bahwa teman-teman mereka di dunia akan bisa memberikan syafaat di sisi Allah di akhirat, ini adalah kesesatan yang tidak diragukan lagi. Kami memohon kepada Allah Azza wa Jalla, semoga memberikan kita taufiq kepada kebenaran, dan membebaskan kita dari pedihnya siksa dan buruknya adzab.

10 Rekomendasi Pondok Pesantren Terbaik di Jawa Timur

Melihat dari segi demografi, masyarakat Indonesia yang mayoritas memeluk agama Islam, membuat pondok pesantren (ponpes) banyak berdiri terutama di Jawa Timur. Beberapa pondok pesantren telah berkembang pesat bahkan sudah banyak yang mengusung konsep modern. Tak sedikit pertimbangan orang tua memasukkan anaknya ke pondok pesantren yakni karena pengajarannya, fasilitasnya, bahkan lulusannya.

Saking banyaknya jumlah pesantren membuat orang tua terkadang masih bingung memilih mana yang paling pas untuk buah hatinya. Nah, 10 rekomendasi ponpes versi Kemendikbud ini mungkin bisa jadi solusi.

1. Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor

Jauh sebelum Ponpes ini berdiri, terlebih dahulu didirikan Pondok Tegalsari yang menjadi cikal bakalnya pada abad ke-18 oleh Kyai Hasan Bashari. Terdapat seorang santri paling menonjol bernama Sulaiman Jamaluddin yang kemudian mendapat kepercayaan dari kyainya untuk mendirikan ponpes di Gontor.

Jenjang pendidikan formal terdiri dari Kulliyatul Mu’allimin Al-Islamiyyah (pendidikan tingkat menengah untuk santri putra) dan Kulliyatul Mu’allimat Al-Islamiyyah (pendidikan tingkat menengah untuk santri putri). 4 Juli 2014 silam pondok modern ini resmi mendirikan Universitas Darussalam Gontor (UNIDA).

Alamat: Ds. Gontor, Kec. Mlarak, Kab. Ponorogo, Jawa Timur

2. Pondok Pesantren Sidogiri

Ponpes Sidogiri disebut sebagai salah satu yang tertua di Indonesia. Diperkirakan telah didirikan sejak tahun 1745 oleh Sayyid Sulaiman. Sayyid ini memiliki garis keturunan dari Sunan Gunung Jati.

Jenjang pendidikan di Ponpes Sidogiri terdiri dari 4 tingkatan yang tergabung dalam Madrasah Miftahul Ulum yakni tingkat Idadiyah (program baca kitab cepat bagi santri usia dini), Ibtidaiyah (Sekolah Dasar), Tsanawiyah (Sekolah Menengah Pertama), dan Aliyah (Sekolah Menengah Atas). Ponpes ini juga memiliki 17 pemukiman santri.

Alamat: Jalan Raya Sidogiri, Sidogiri, Kecamatan Kraton, Kabupaten Pasuruan

3. Pondok Pesantren Tebu Ireng

Ponpes satu ini terkenal karena sejumlah alumni ternamanya seperti KH Abdurrahman Wahid yakni Presiden Keempat Republik Indonesia dan KH Ma’ruf Amin yang saat ini menjabat sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia. Ponpes Tebu Ireng didirikan pada 1899 oleh KH Hasyim Asy’ari.

Jenjang pendidikan di mulai dari SD hingga SMA. Kurikulum yang berlaku yakni pendidikan agama Islam termasuk Fiqh, Ushul Fiqh, Ahlak, Tasawuf, dan ilmu pengetahuan umum serta pendidikan bahasa meliputi Bahasa Arab dan Inggris.

Alamat: Jl. Irian Jaya No.10, Cukir, Kec. Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur

4. Pondok Pesantren Lirboyo

Ponpes Lirboyo telah berdiri sejak tahun 1900-an dan didirikan oleh KH Abdul Karim. Lirboyo awalnya merupakan nama sebuah desa di barat Sungai Brantas, di lembah gunung Willis, Kota Kediri. Tercatat santri Lirboyo dulunya pernah ikut serta dalam peristiwa 10 November 1945 di Surabaya.

Ponpes ini memiliki sejumlah cabang yang tersebar di Jawa Timur, seperti di Malang dan juga Blitar. Sistem pendidikannya dinamai Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien yang telah berkembang menjadi Pusat Pendidikan Islam yang lebih khusus.

Alamat: Desa Lirboyo, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, Jawa Timur

5. Pondok Pesantren Langitan

Dulunya, ponpes ini berasal dari sebuah surau kecil tempat sang pendiri, KH Muhammad Nur, mengajarkan ilmunya kepada keluarga dan para tetangga dalam rangka mengusir penjajah. Menurut catatan sejarah, KH Hasyim Asy’ari dan KH Kholil Bangkalan pernah menempuh pendidikan di sini.

Ponpes Langitan menerapkan metode pengajaran dalam sistem klasikal (madrasiyah) dan non klasikal (ma’hadiyah). Sistem pendidikan klasikal merupakan sebuah model pengajaran yang bersifat formal.

Alamat: Jln. Langitan, Slawe, Widang, Tuban, Kabupaten Tuban, Jawa Timur

Kisah Pondok Pesantren At-Taufiqiyah Sumenep, Berdiri di Lingkungan Masyarakat yang Keras

Pondok Pesantren At-Taufiqiyah berdiri sejak 1942. Lembaga pendidikan yang berlokasi di Desa Aengbaja Raja, Kecamatan Bluto, ini didirikan oleh KH Hasyim Ali. Sebelum berdiri pesantren, masyarakat di lingkungan tersebut terkenal keras.

Sejak berusia tujuh tahun, KH Hasyim Ali mondok di salah satu pesantren di Asta Barat, Desa Kebonangung, Sumenep.

Saat usia remaja, pindah ke Pondok Pesantren Lubangsa Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep. Setelah bertahun-tahun menimba ilmu, dia pulang ke kediamannya di Desa Aengbaja Raja, Kecamatan Bluto.

Setelah berkelana menimba ilmu, KH Hasyim Ali merintis Ponpes At-Taufiqiyah. Dia mengajar mengaji anak-anak kerabatnya serta warga sekitar. Saat itu, di lingkungan tersebut rawan terjadi tindakan kriminal, perjudian, dan lainnya.

Meski demikian, KH Hasyim Ali bekerja keras mengembangkan apa yang dirintisnya. Dia terus mengajak dan menarik simpati masyarakat untuk belajar ilmu agama. Di antaranya, membuat gebrakan perkumpulan jamiatul surah setiap malam Selasa.

Pihaknya berjalan kaki keliling kampung mengajak warga belajar ilmu agama. Upaya tersebut berhasil, banyak yang belajar agama dan mengaji pada KH Hasyim Ali.

Animo masyarakat untuk belajar ilmu agama meningkat. Sekitar 1950-an, KH Hasyim Ali membangun madrasah wajib belajar (MWB) yang kini menjadi MI At-Taufiqiyah.

Kemudian, dibangun muallimin yang kini menjadi MTs At-Taufiqiyah. Pada 1980–1982, baru dibangun MA dan sekarang sudah dilengkapi SMK At-Taufiqiyah.

Pada 1981, KH Hasyim Ali wafat. Kepemimpinan Ponpes At-Taufiqiyah diasuh putranya, yakni KH Imam Hasyim sampai sekarang. Jumlah santri saat ini mencapai 1.450 orang dari berbagai jenjang pendidikan.

Pengasuh Ponpes At-Taufiqiyah KH Imam Hasyim mengatakan, setelah mondok di Ponpes Nurul Jadid Paiton, Probolinggo, dirinya dipercaya mengasuh Ponpes At-Taufiqiyah.

Pesantren ini sengaja diberi nama At-Taufiqiyah oleh KH Hasyim Ali. Nama itu sudah melalui perenungan yang panjang.