Masih Relevankah Pondok Pesantren Zaman Sekarang?

Membicarakan pondok pesantren pada akhir-akhir ini memang menuai kritik dan pandangan sinis dari beberapa pihak, pasalnya hal ini didukung oleh menyebarnya kasus kekerasan seksual baik verbal maupun non-verbal yang dialami santri dari lingkungan pondok. Atau, kekerasan berbasis bulli yang rentan di pondok pesantren. 

Dilansir dari Kompas, menurut Federasi Serikat Guru Indonesia, sepanjang Januari hingga Agustus 2024, bahwasannya ada 101 anak menjadi korban kekerasan seksual di lembaga pendidikan. Dari 8 kasus, terdapat 3 kasus terjadi di pondok pesantren. Di mana, yang menjadi pelaku adalah menjabat sebagai seseorang yang mempunyai kedudukan di pesantren seperti pengasuh maupun ustadz menjadi otak dari kekerasan seksual yang terjadi.

Dari kasus yang semakin bermunculan inilah yang mengakibatkan nama pesantren tercemar. Mirisnya, dari kasus yang terjadi, agama sering dijadikan sebagai alasan untuk melancarkan aksinya. Dari beberapa kasus, yang disayangkan adalah pelaku yang berasal dari orang dalam pesantren, seperti Kiai maupun orang-orang yang mempunyai kedudukan tinggi di dalamnya. Maka dari itu, banyak orang tua yang akhirnya tidak mempercayai pesantren sebagai lembaga untuk mendalami ilmu agama maupun moral. 

Di masa sekarang, apakah pesantren masih layak dijadikan sebagai lembaga pendidikan keislaman? Yang mana  lembaga pendidikan seperti negeri dan swasta saling berlomba-lomba untuk menjadi yang terbaik. Entah dari segi kapabilitas maupun kapasitas.

Namun, dalam tulisan ini, saya mencoba menguraikan beberapa poin jika posisi pendidikan pesantren tidak bisa diganti dengan lembaga  manapun. 

Pertama, bahwasannya pesantren adalah lembaga untuk menjunjung nilai-nilai turas. Nilai-nilai turos di sini adalah warisan keilmuan yang diturunkan dari ulama-ulama terdahulu, baik ulama  Nusantara maupun ulama dari bangsa Arab, yang mana biasanya berbentuk di dalam kitab yang bertuliskan Arab dengan  bahasa Arab. Untuk memahami  kitab tersebut, pesantren merupakan satu-satunya  lembaga yang  masih mengadopsi pembelajaran kitab tersebut dengan metode yang khas maupun klasik.

Nila-nilai  turos tersebut tidak semerta-merta hanya  dibaca, tetapi banyak adanya pertukaran ide yang terjadi, mulai dari dibaca, dipahami, diimplementasikan di setiap sisi kehidupannya. Proses-proses inilah yang hanya bisa diperoleh di dalam lembaga pesantren saja.

Kedua, implementasi dari hidup yang bertasawuf  atau minimalism. Seperti yang kita ketahui, ulama-ulama dahulu  memilih untuk menyibukkan hidupnya dengan segala sesuatu yang memberikan dia manfaat lebih banyak dan meninggalkan gaya hidup yang berlebihan.

Salah satu lingkungan yang dibangun oleh pesantren adalah mencoba mengimplementasikan hidupnya sebagaimana dengan para ulama, mengejar kehidupan akhirat dan sebatasnya saja pada dunia. Memberlakukan hidup minimalis juga salah satu tujuan dari kehidupan yang baik, seperti membeli baju cukup dan tidak berlebihan, dan memanfaatkan hal-hal  yang masih layak.

Ketiga, pembentukan karakter pada anak. Hal ini yang menjadi pembeda di lembaga manapun, pesantren membersamai anak 24 jam, yang tentunya berbeda dengan lembaga pendidikan lainnya, pesantren membersamai anak dari bangun tidur hingga tidur lagi. Yang  tentunya di sela-sela tersebut terdapat kegiatan mulai dari kemandirian pola mereka dalam memanfaatkan waktu.

Dari tiga poin yang saya uraikan, tentunya  hal ini bisa menjadi pertimbangan dalam memilih pesantren sebagai lembaga yang dipercaya para orang tua. Nilai-nilai pesantren inilah yang tidak bisa diadopsi lembaga manapun, karena nilai-nilai tersebut erat dengan pesantren.

Selain itu, bijak dalam  memilih pesantren juga poin utama yang dapat dilakukan orang tua. Karena, dari adanya kejadian-kejadian di atas, orang tua juga dituntut untuk lebih selektif  dalam memilih lembaga  pesantren